Waktu itu, lebih tepatnya bulan awal juni tahun 2018, aku ditawari sebuah pekerjaan yang belum pernah kulakukan sebelumnya, menjadi seorang waiters paruh waktu. Karena kondisi saku jajan yang pas-pasan,
Lumayan, pikirku.
Aku yang belum pernah menjadi seorang pramusaji di sebuah restoran sebelumnya menjadikan pekerjaan kali ini lebih menantang, bukannya mau sombong, tapi ketika aku baru datang, sang bos langsung memintaku memegang gagang pel dan mulai bekerja.
Lho ini waiter apa cleaning-service? Ternyata sang
cleaning-service memang belum datang, oh apesnya.
Pertama aku benar-benar
nggak tahu bagaimana cara menjadi waiters, ini sungguh modal nekat. Hahaha. Kemudian yang kedua, lingkungan kerja yang kukira ramah ternyata... ya begitulah. Tapi
nggak semua kaya gini ya, dulu pas aku kerja yang lain, lingkungan kerjaku begitu nyaman untuk seorang pekerja baru.
Kemudian, jam kerjanya memang standar, tapi segala pekerjaan seperti diserahkan pada kami, pekerja
part-time dengan kemeja putih. Hampir nggak ada waktu untuk istirahat atau memang
nggak ada? Seingatku, aku istirahat hanya ketika sholat, jadi aku berdoa selama mungkin,
ehehe.
Berbagai macam pelanggan ada disana, mulai dari yang rewel, sombong, baik hati, suka ngasih tip, genit, sok iya, dan kebarat-baratan pun ada.
Ternyata, menjadi waiters itu
nggak semudah menurut kalian. Ini jauh berbeda dari pekerjaan yang pernah kugeluti sebelumnya (bukan, gelut disini bukan berkelahi.), begitu pula dengan gaji yang diberikan, sangat berbeda.Waktu itu, aku dibayar perhari langsung secara
cash, enaknya sih gitu. Jadi
nggak perlu nunggu lama banget, tapi yaaa badannya rusak semua ahahaha.
Dari sini aku tahu kalau jadi
waiter itu pekerjaan yang berat dan aku belajar untuk bilang terimakasih kepada setiap
waiter yang mencoba melayani dengan sepenuh hatinya.
Yang pasti, aku
nggak akan menyesal pernah menjadi seorang
part-time waiter.